Senin, 05 Mei 2008

Subrime Mortage

Belajar dari Krisis Subrime Mortage di Amerika

Pada saat ini Amerika sedang dilanda badai financial, diikuti dengan jatuhnya saham Bear Stearns (BS), dari $ 150 dollar anjlok ke $ 2.00 per share. Yang belum begitu paham mengenai BS, boleh saya ulas sedikit. BS adalah salah satu dari 5 perusahaan sekuritis terbesar di Amerika.

Penyebab jatuhnya BS adalah akibat gaya hidup American sendiri. Hampir 6 juta penduduk di Amerika yang tidak memiliki cukup uang, bergaya dengan membeli property (rumah tinggal) dengan cara meminjam uang kepada bank sebesar 100% dari harga property itu sendiri. Mereka membeli rumah tanpa modal, tidak menyetor down payment, dan bahkan memasukkan angka down payment ke dalam angsuran bulanannya. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan subprime borrowers.

Pihak yang meminjamkan uang tidak pernah merasa khawatir, karena mereka memutar dana mortgages itu kedalam siklus bond yang dinamakan Mortgage Backed Securities Di Amerika, salah satu perusahaan yang memegang peran dalam perputaran bond adalah Fannie Mae , si Fannie ini adalah program yang disponsori oleh pemerintah tapi sahamnya dimiliki oleh private investor.

Walaupun dibeking oleh pemerintah, si Fannie ini berhak memainkan angka interest, sebagai contoh treasury mematok bond senilai 6.2% selama jangka waktu 30 tahun, si Fannie enteng saja mematok bond senilai 6.3% dalam jangka waktu yang sama. Kenapa bisa begitu ? karena si Fanni punya trik yang kompetitif di seluruh perusahan perusahaan mortgage di Amerika.

Si Fannie inilah yang menjamin MBS (Mortgage Backed Securities), ibaratnya mobil, MBS inilah mesin yang memuluskan globalisasi dan sosialisasi mortgage di Amerika berikut dengan segala resikonya. Kembali ke cerita diatas, pihak lender yang merasa bahwa dengan merolling dana mortgage kedalam bond, mereka akan terhindar dari resiko kerugian karena paket mortgage sudah berada pada tangan ketiga ternyata salah strategi karena kenyataannya menjual MBS tidak semudah yang mereka prakirakan.

Kebanyakan malah mereka menghadapi default. Terlebih agen credit hanya mematok MBS dengan kredit skore yang amat rendah, yang berarti tidak dipertimbangkan sebagai trade investment, kelanjutannya MBS didiskulaifikasi. Untuk menyelamatkan MBS, para investment mengiris MBS dan menyalurkan irisan irisan MBS kedalam adonan kue lainnya yang dikenal dengan nama CDO (Collateralized Debt Obligations), idenya sih untuk mencampur asset yang memiliki resiko tinggi kedalam asset yang memiliki resiko lebih rendah sehingga didapat 3 bentuk adonan kue equity (yang memiliki high risk), mezzanine (middle risk), dan adonan yang lebih lembut yaitu investment grade bonds.

Nah sayangnya, harga property jatuh, otomatis equity yang dimilki homeowners pun juga jatuh. Hal ini ditambah hampir 2 juta penduduk di Amerika file bankruptcy dan memilih untuk mengforclosure asset mereka. Jatuhnya BS memaksaThe Fed (Federal Reserve) turun tangan dengan memperpanjang line credit untuk JP Morgan sebesar $ 30 billion sehingga JP bisa membeli BS dengan harga yang sangat murah $ 236 million/$ 2.00 per share ( benar benar garage sale di dunia business).

BS tidak punya pilihan lain, pihak bank sudah panik dengan issue business mortgage akan hilang dan bank akan mengalami problem likuditi yang besar. Investor menarik uangnya dari bank, sehingga bank mengalami kekurangan cash, satu satunya cara untuk menyelamatkan dari krisis adalah membiarkan BS dibeli oleh firm lain, walaupun hal ini berakibat pemegang saham BS jatuh miskin, sayangnya sebagian besar shareholder adalah karyawan/karyawati BS sendiri, sungguh ironis.

Kenapa Fed bersuah payah membantu BS, karena BS merupakan salah satu barometer pasar uang di Amerika. Dampak jatuhnya BS merembet ke business yang serupa, spekulan memprediksikan bahwa UBS dan Lehman Brothers mulai bergetar, bahkan dikabarkan saham UBS jatuh sebesar 14% di Zurich. Tidak hanya out secara global, seluruh harga saham di bursa Wall Street menukik tajam.

Kenyataan ini tidak disadari oleh sebagian besar penduduk di Amerika. Banyak yang masih tidak paham akan kondisi perekonimian di Negara adidaya ini. Penduduknya masih memiliki gaya hidup yang konsumtif. Walaupun harga bahan makanan pokok sudah melambung sebesar 15% dan gasoline merambat naik setiap minggunya. Belum membuat kapok konsumen ini.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kejatuhan BS adalah hidup di Negara super power tidak menjamin kestabilitas financial. Hidup ini sebenarnya seperti roda, sebentar diatas, sebentar dibawah. Kalau tidak dari sekarang kita merubah gaya hidup kita dan lebih mengutamakan hidup sederhana dan berhemat, kita tidak akan bisa survive hidup di masa yang akan datang.

Hidup hemat di Amerika bisa dimulai dengan mengganti kendaraan anda yang berjenis SUV, Truck, atau Minivan, dengan kendaraan roda empat, sedan, buatan Jepang, yang lebih hemat. Menunda membeli rumah kecuali jika anda minimal sudah memiliki uang muka sebesar 20% dari harga property dan memiliki uang tabungan minimal sebesar biaya hidup anda 1 bulan dikalikan selama 12 bulan, karena jika mengalami pemutusan hubungan kerja, setidaknya dapat survive dalam waktu setahun.

Sebaiknya untuk suami menyarankan istri untuk mulai bekerja di luar rumah, walaupun penghasilan suami jauh lebih besar dan selalu mencukupi kebutuhan rumah tangga, tidak ada salahnya jika si istri ikut bekerja, dan penghasilannya dimasukkan kedalam saving account. Atau mencoba untuk menyusun budget belanja dapur sehari hari dan membiasakan untuk memasak dengan porsi lebih untuk kemudian dihangatkan keesokan harinya, hal ini selain dapat mengikis biaya listrik akibat penggunaan kompor juga menghemat penggunaan minyak goreng, dan bahan pelengkap lainnya. Semoga artikel ini bermanfaat .

Tidak ada komentar: